Rabu, 22 Desember 2010

laporan praktikum OSMOSIS CAIRAN SEL

LAPORAN TETAP
PRAKTIKUM FISIOLOGI TUMBUHAN
Tekanan Osmosis Cairan Sel



RISKA FITRAH APRIANTI
05091007064
KELOMPOK I (SATU)





PROGRAM STUDI AGROEKOTEKNOLOGI
FAKULTAS PERTANIAN
UNIVERSITAS SRIWIJAYA
2010

BAB I
PENDAHULUAN



A. Latar Belakang
Sel merupakan suatu unit terkecil tubuh mahluk hidup. Untuk mempertahankan posisinya sel ditopang oleh adanya dinding sel dan vakuola. Vakuola merupakan bagian dalam protoplas yang mengandung larutan dan berbagai zat. Vakuola dipisahkan dalam sitoplasma oleh mebran yang dinamakan tonoplas. Air yang terdapat didalam vakuola dapat keluar dari membrane sel dan akan mengakibatkan mengempisnya sel tersebut. Akan tetapi air yang terda;pat dirua ng bebas antar sel dapta pula dimasukkan ke dalam vakuola. Keadaan ini terjadi apabila nilai osmosis dalam sel lebih negative daripada nilai osmosis diluar sel. Akibatnya sel akan menggelembung.
Jika sel tumbuhan diletakkan didalam suatu larutan manitol atau sukrosa encer, maka akan didapatkan adanya tekanan osmosis pada dinding sel. Di dalam mengalami deficit tekanan difusi yang cukup besar. Akibatnya air akan masuk kedalam sel melewati membrane sel. Setelah air masuk, deficit tekanan difusi menurun, tekanan osmosis menurun tetapi tekanan turgor naik. Akibatnya sel akan menggelembung.
Keadaan yang berlawanan akan terjadi jika larutan diluar bersifat lebih pekat daripada cairan didalam sel. Larutan sukrosa diluar sel mengalami deficit tekanan difusi. Air akan bergerak melewati membrane sel ke larutan sukrosa. Karena iar keluar, maka volume sel menyusut, tekanan turgor berkurang, setelah terjadi kesetimbangan, konsentrasi larutan dalam sel akan lebih pekat, defisit tekanan difusi bertambah, tekanan osmosis bertambah. Komponen potensial air tumbuhan terutama terdiri atas potensial osmosis (solute) dan potensial turgor (tekanan). Dengan adanya potensial osmosis cairan sel, air murni cenderung memasuki sel. Sebaliknya potensial turgor didalam sel mengakibatkan air meninggalkan sel. Untuk mengatur potensial osmosis, potensial turgor harus nol. Potensial turgor sama dengan nol jika sel mengalami plasmolisis. Plasmolisis adalah peristiwa lepasnya protoplasma dari dinding sel karena keluarnya sebagian air dari vakuola. Keadaan volume vakuola tepat untuk menahan protoplasma agar tetap menempel pada dinding sel, sehingga kehilangan air sedikit saja akan berakibat lepasnya protoplasma dari dinding sel. Peristiwa plasmolisis semacam ini disebut plasmolisis insipien.
Plasmolisis insipien dapat dikenali jika dalam suatu larutan dijumpai sekumpulan sel yang 50% berplasmolisis dan 50% tidak berplasmolisis. Dalam hal ini digunakan nilai rata-rata karena potensial osmosis sel-sel tersebut tidak sama.


B. Tujuan

Praktikum ini bertujuan untuk dapat melakukan pengukuran besarnya tekanan osmosis cairan sel epidermis daun Rhoeo discolor.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA



Air menjadi kebutuhan pokok bagi semua tanaman juga merupakan bahan penyusun utama dari protoplasma sel. Rhoeo discolor merupakan tumbuhan yang banyak tumbuh didaerah tropis. Umumnya tanaman ni tumbuh didaerah dingin dan cukup air. Tanaman ini tidak dapat tumbuh didaerah tanah yang jenuh atau tergenang karena batang dan daunnya akan cepat membusuk, dan tanaman ini juga tidak dapat tumbuh didaerah yang kurang air karena daun dan batangnya akan mengerdil ( Fahn, 1991).
Tanaman ini juga merupakan tanaman yang mempunyai ciri yaitu dengan bentuk daunya yang memanjang seperti daun jagung, mempunyai warna ungu pada pada permukaan bawah dan warna hijau dipermukaan atas. Pada permukaan atas licin karena terdapat lapisan lilin. Tanaman ini mempunyai akar serabut sehingga termasuk tanaman monocotyledoneae ( Haryadi, 1996).
Dalam sistematika tumbuhan, kedudukan tanaman nanas kerang (Rhoeo discolor) diklasifikasikan sebagai berikut :
Kingdom : Plantae
Subkingdom : Tracheobionta
Superdivisio : Spermatophyta
Divisio : Magnoliophyta
Class : Liliopsida
Ordo : Commelinales
Famili : Commelinaceae
Genus : Rhoeo
Spesies : Rhoeo discolor
Rhoeo mempunyai jaringan yang terdiri dari sel-sel yang bentuknya sama dapat juga melakukan fungsi khusus yang dapat juga bersama jaringan lain membentuk fungsi yang lebih kompleks. Pertumbuhan darai tana,mn ini sangat penting pada aktivitas jaringan meristem. Dan jaringanya terbagi dua yang berdasarkan kemampuan untuk tumbuh dan memperbanyak diri yaitu jaringan meristem dan jaringan yang permanen (Sastrodinoto,1980).
Pada hakikatnya tekanan osmose merupakan suatu proses tekanan yang menyebabkan difusi. Osmose juga merupakan difusi dari tiap pelarut melalui suatu selaput yang permeabel secara difertensial. Membran sel yang meloloskan molekul tertentu, tetapi menghalangi melekul lain dikatakan permeabel secara diferensial. Seperti dikatakan diatas, pelarut universal adalah air (Kramer dan Kozlowski,1960).
Secara sederhana dapat dikatakan bahwa osmosis adalah difusi air melalui selaput yang permeabel secara differensial dari suatu tempat berkonsentrasi tinggi ketempat berkonsentrasi rendah. Pertukaran air antara sel dan lingkungan adalah suatu faktor yang sangat penting sehingga memerlukan suatu penamaan khusus yaitu osmosis ( Salisbury,1995).
Suatu percobaan yang menunjukan proses osmosis adalah suatu percobaan yang mengamati suatu lubang bawah dari tabung gelas ditutup dengan selaput. Selaput itu berfungsi sebagai membran permeabel secara differensiasi, yang meloloskan melekul-molekul air secara cepat, tetapi menghalangi molekul yang lebih besar (Dwidjoseputro,1984).
Tekanan osmosis cairan dapat ditentukan dengan cara mencari suatu larutan yang mempunyai tekanan osmosis sama dengan cairan tersebut. Dalam cara ini kita dapat mengambil patokan pada terjadinya peristiwa plasmolisis sel.dalam keadan insipien plasmolisis tekanan osmosis cairan sel adalah sama dengan tekanan osmosis larutan dalam massa jaringan sel tersebut direndam. Plasmolisis dapat dilihat dibawah mikroskop sebagai suatu percobaan (Lakitan, 2004).
.







BAB III
PELAKSANAAN PRAKTIKUM



A. Tempat dan Waktu
Praktikum ini dilaksanakan di Laboratorium Fisiologi Tumbuhan Fakultas Pertanian Universitas Sriwijaya pada tanggal 16 Desember 2010 yang dimulai pada pukul 10.00 WIB sampai dengan selesai.


B. Bahan dan Alat
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah : 1) daun Rhoeo discolor, 2) larutan sukrosa 0 M; 0,16 M; 0,18 M; 0,20 M; 0,22; 0,24 M dan 0,26 M. Sedangkan alat yang digunakan adalah 1) 7 buah botol pial, 2) 7 buah pipet 5 ml dan 10 ml, 3) pisau silet, 4) pinset, 5 ) jarum bertangkai dan 6) mikroskop beserta gelas objek dan penutupnya.


C. Cara Kerja
Bahan kimia yang digunakan berupa larutan sukrosa dengan konsentrasi masing-masing yaitu 0,28 M ; 0,26M ; 0,24M ; 0,22M ; 0,20M ; 0,18M ; 0,16M, yang disispkan dalam tabung atau cawan petri serta diberikan etilen untuk setiap konsentrasi.
Kemudian daun tanamn Rhoeo discolor dikupas dengan pisau yaitu pada bagian atau lapisan epidermis (usahakan hanya satu lapisan sel saja yang terambil)
Kemudian rendamlah kupasan tersebut kedalam larutan sukrosa, perendaman didalam tiap tabung interval tiap empat menit.
Catatlah waktu mulai merendam dan tepat pada 30 menit maka perendaman selesai
Kemudian letakan jaringan yang telah direndam dibawah mikroskop
Tentukan sekelompok 25 sel yang terlihat dibawah mikroskop dan hitung sel-sel yang telah terplasmolisis untuk masing masing larutan sukrosa.


BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN



A. Hasil
Tabel Pengamatan


Molaritas Sukrosa (M) %Plasmolisis
0
0,16
0,18
0,20
0,22
0,24
0,26 ± 0%
± 10%
± 25%
± 50%
± 75%
± 90%
± 100%

Perhitungan :
M = a + |c – 50| x |b – a|
|d – 50|
= 0,18 M + | 25 – 50 | x | 0,22 M – 0,18 M |
75 – 50
= 0,14 mol/liter

OP = 22,4 MT = 22,4 . 0,14 . (28+ 273) = 3,45 atm
273 273

Keterangan :
a = M terdekat dibawah 50 % c = % terdekat dibawah 50 %
b = M terdekat diatas 50 % d = % terdekat diatas 50 %

B. Pembahasan
Pada praktikum pengukuran tekanan osmosis cairan sel, bahan yang digunakan adalah sel epidermis daun Rhoe discolor yang dikupas bagian lapisan epidermisnya dengan memakai larutan sukrosa pada konsentrasi yang berbeda. Hasil yang diperoleh bahwa perlakuan pada larutan sukrosa 0,20 M yang memiliki ± 50% sel yang terplasmolisis yang disebut plasmolisis insipien. Sedangkan pada 0,26 M, sel yang terplasmolisis mencapai 100%. Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan, diketahui bahwa peristiwa osmosis merupakan difusi dalam suatu lingkungan tertutup.
Tekanan yang mendorong terjadinya difusi ini dinamakan tekanan osmosis atau osmotic pressure. Tekanan yang menjadi penentuan dalam pencarian suatu larutan dengan tekanan osmosis yang sama dengan cairannya disebut dengan tekanan difusi. Karena konsentrasi larutan gula berperan dalam plasmolisis sel, maka dapat disimpulkan bahwa semakin banyak sel yang terplasmolisis. Hal tersebut dapat kita lihat dengan adanya suatu bintik atau titik yang berada di tengah-tengah sel tanaman tersebut.
Bila sel tumbuhan dimasukkan dalam larutan gula, maka sel tersebut akan kehilangan air murni, jika nilai larutan gula dalam sel lebih pekat dari pada potensial air yang cukup besar, maka kemungkinan volume sel akan menurun sehingga tidak dapat mengisi seluruh ruangan yang dibentuk oleh dinding sel. Akibatnya, membrane dan sitoplasma akan lepas dari selnya. Hal inilah yang dinamakan dengan sel yang terplasmolisis.
Berdasarkan praktikum yang dilakukan diketahui bahwa semakin tinggi nilai molaritas larutan sukrosa, maka sel akan semakin cepat terplasmolisis. Hal ini terbukti dengan keberadaan senyawa antosianin berwarna keunguan yang terkandung dalam daun Rhoeo discolor semakin turun kadarnya jika dimasukkan secara bertahap kedalam larutan sukrosa yang berbeda-beda tingkat atau nilai molaritasnya.


BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN



A. Kesimpulan
Bedasarkan praktikum yang telah dilaksanakan maka diperoleh kesimpulan sebagai berikut :
1. Plasmolisis adalah peristiwa lepasnya protoplasma dari dinding sel karena keluarnya sebagian air dari vakuola.
2. Plasmolisis insipien dapat dikenali jika dalam suatu larutan dijumpai sekumpulan sel yang 50% berplasmolisis dan 50% tidak berplasmolisis.
3. Semakin tinggi nilai molaritas larutan sukrosa, maka semakin cepat sel terplasmolis.
4. Senyawa yang terkandung dalam daun Rhoeo discolor adalah senyawa antosianin yang berwarna keunguan.
5. Sel epidermis daun Rhoeo discolor pada praktikum yang mengalami plasmolisis insipien adalah pada perlakuan 0,20 M.



B. Saran
Adapun saran yang dapat diberikan pada praktikum ini adalah dalam melakukan praktikum sebaiknya praktikan lebih teliti dalam penagturan waktu dan pada saat pengamatan sel dibawah mikroskop.





DAFTAR PUSTAKA



Dwidjoseputro, D. 1984. Pengantar Fisiologi Tumbuhan. Gramedia. Jakarta.
Fahn, A. 1991. Anatomi Tumbuhan Edisi Ketiga. Gajah Mada Universitas Press:
Yogyakarta.
Lakitan, Benjamin. 2004. Dasar-Dasar Fisiologi Tumbuhan. PT. Raja Grafindo
Persada: Jakarta.
Salisbury, B. Frank dan Cleon W. Ross. 1995. Fisiologi Tumbuhan Jilid I. ITB:
Bandung.
Haryadi, Sri Setyadi. 1996. Pengantar Agronomi. PT. Gramedia Pustaka Utama:
Jakarta.
Sastrodinoto, Soenarjo. 1980. Biologi Umum II. PT. Gramedia: Jakarta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar